Jumat, 29 Juli 2011

laporanku

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
            Hampir setiap orang mengetahui golonga darahnya, namun sebagian besar tidak tahu siapa sebenarya tokoh yang telah berjasa menemukan golongan darah. Penemu golongan darah adalah Karl Landsteiner yang dilahirkan di Vienna, 14 Juni 1868. Dia adalah ilmuwan dalam bidang bio pengobatan. Bahkan berkat jasanya, dia mendapatkan anugerah Nobel untuk bidang Fisologi atau Pengobatan pada tahun 1930 (cobaku.comule)

Untuk pertama kalinya DR. Landstainer pada tahun 1900 mengemukakan bahwa darah manusia dapat dibagi menjadi 4 macam golongan yaitu: A, B, O, dan AB (ALM ANAK TRANSFUSI DARAH). Golongan darah sangat penting dalam kehidupan terutama dalam bidang transfusi darah, sebab salah memberikan golongan darah dapat mengakibatkan kematian terhadap pasien. Golongan darah menurut sistem A-B-O dapat diwariskan dari orang tua kepada anaknya. Land-Steiner dalam Suryo (1996) membedakan darah manusia kedalam empat golongan yaitu A, B, AB dan O. Penggolongan darah ini disebabkan oleh macam antigen yang dikandung oleh eritrosit (sel darah merah).

            Terdapat 2 jenis penggolongan darah yang paling penting yaitu golongan darah A, B, O dan faktor Rhesus. Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen A – B - O dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Setiap golongan darah dapat dikenal dari zat kimia yang disebut antigen (zat yang dapat menimbulkan respon imun), yang terletak di permukaan sel darah merah, namun ada juga yang terlarut di dalam plasma atau cairan tubuh. Ketika seseorang membutuhkan transfusi darah, maka darah yang disumbangkan haruslah sesuai dengan golongan darah tertentu, sebab kesalahan dalam melakukan transfusi akan dapat menimbulkan komplikasi yang serius.

1.2.Perumusan Masalah.
Bagaimana hasil pemeriksaan golongan darah dan hasil pemeriksaan Coomb’s test terhadap sampel darah Ny. Erika dari rumah Sakit St. Corolus bagian kebidanan. Selain itu mencakup tentang bagaimana cara pemeriksaannya dan hasil yang didapatkan dari pemeriksaan darah tersebut.

1.3. Tujuan dan Manfaat
Makalah ini disusun sebagai suatu persyaratan kelulusan di D-1 Paramedis Teknologi Transfusi Darah Angkatan XVII tahun ajaran 2011.  Dengan adanya makalah ini, penulis bisa berlatih untuk mengasah kemampuan dalam menyusun makalah ataupun karya ilmiah yang akhirnya akan menambah pengetahuan kita tentang Serologi Golongan Darah khususnya pada kasus sistem golongan darah Rhesus yang akan menjadi bekal pengetahuan di lingkungan kerja nantinya.

1.4. Pembatasan Masalah
            Cakupan tentang serologi golongan darah sangat luas, namun dalam makalah ini penulis hanya membatasi seputar hasil pemeriksaan darah Ny. Erika yang mempunyai golongan darah Rhesus negatif, sesuai dengan materi ujian Praktikum Serologi yang didapat pada hari Rabu, 20 Juli 2011. Penulis akan mencoba membahas mengenai hasil dari praktikum.



BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Golongan Darah Sistem Rhesus
Sistem Rhesus merupakan suatu sistem yang sangat kompleks. Masih banyak perdebatan baik mengenai aspek genetika, nomenklatur maupun interaksi antigeniknya (DR.Med Ellyani Sindu).
Rhesus positif (Rh positif) adalah seseorang yang mempunyai Rh-antigen pada eritrositnya sedang Rhesus negatif (Rh negatif) adalah seseorang yang tidak mempunyai Rh-antigen pada eritrositnya.Antigen pada manusia tersebut dinamakan antigen-D, merupakan antigen yang berperan penting dalam transfusi. Tidak seperti pada sistem ABO, dimana seseorang yang tidak mempunyai antigen A/B akan mempunyai antibodi yang berlawanan dalam plasmanya, maka pada sistem Rhesus pembentukan antibi selalu oleh suatu eksposure apakan itu dari kehamilan, ataupun dari transfusi.
Sistem golongan darah Rhesus merupakan antigen yang terkuat bila dibandingkan dengan sistem golongan darah lainnya, sebab dengan pemberian darah Rhesus positif satu kali saja sebanyak ± 0,1 ml secara parenteral pada individu Rhesus negatif, maka akan membentuk antibodi Rhesus positif. Rh
§      Variant (DU)
            Tidak semua Rh positif bereaksi sama kuat terhadap anti –D. Sel yang tidak langsung bereaksi tidak dapat dikatakan Rh negatif karna sel D positiF tidak langsung bereaksi, maka perlua adanya pemeriksaan tambahan (anti globulin test) untuk menunjukkan adanya antigen yang lemah tersebut. Antigen ini adalah variant dar Rh antigen yang disebut DU. (Dr. Med Ellyani Sindu)
A. Penerimaan sampel
a.       Waktu penerimaan sampel      : 13.15 WIB
b.      Tanggal penerimaan sample    : 20-07-2011
c.       Kondisi sampel                       : Baik
d.      Volume                                   : Cukup
e.       Identitas                                   : Ada
B. Identitas Sampel
a.       Nama               : Ny. Erika
b.      Jenis kelamin   : Perempuan
c.       Usia                 : 30 th
d.      Rumah Sakit   : St. Corolus
e.       Bagian             : Kebidanan
f.       Ruangan          : Maria 2
g.      No. Register    : 910112
h.      Dr. Yang meminta : dr. Robert
i.        Diagnosa         : G2P1A1
j.        Kadar Hb \      : 7 gr/dl Persiapan Alat
k.      Riwayat transfusi   : -

C. Persiapan Alat
a.       Tabung reaksi 12 x 75 mm
b.      Rak tabung
c.       Centrifuge
d.      Inkubator
e.       Labu semprot
f.       Pipet plastik
g.      Tempat limbah cair dan padat
h.      Gelas pembilas
i.        Tissue dan parafilm
j.        Objek glass
k.      Mikroskop


D. Persiapan Reagensia
a.       Anti- A                                    : 130311/ maret 2012
b.      Anti –B                                   : 130311/ maret 2012
c.       Anti – D                                  : DM 020211/ januari 2012
d.      AHG Polyspesifik                  : SGA o4o411/ april 20112
e.       AHG Monospesifik C3               :  130311/ maret 2012
f.       AHG Monospesifik Anti IgG : 130311/ maret 2012
g.      Bovine Albumine 22 %           : 010511/ mei 20112
h.      Test Sel A                   : 180711/10 agustus 2011
i.        Test Sel B                    : 180711/10 agustus 2011
j.        Test Sel O Rh Positif  : 180711/10 agustus 2011
k.      CCC                            : 180711/ 10 agustus 2011
l.        Bovine Albumine 6 % : 10106/ Oktober 2007
m.    Sel Panel Kecil            : 12120711/ 02082011
n.      Sel Panel Besar           : 12120711/ 02082011
Persiapan reagensia: Biarkan reagensia pada suhu kamar.Catat batch no/ no. Lot dan tanggal kadaluarsa.

2.2. Langkah-Langkah Pengerjaan
A. Validasi reagensia
Prinsip             : untuk mengetahui apakah reagen tersebut masih baik atau tidak, apakah masih valid atau tidak.
Metoda : agglutinasi metode tube test.
Cara kerja terlampir

B. Pemeriksaan Golongan Darah
Prinsip: Pemeriksaan golongan darah bertujuan untuk menetapkan ada tidaknya antigen pada sel darah merah, dan ada atau tidaknya antibodi dalam serum atau plasma.
v  Golongan darah dituntukan melalui:
a.       Golongan darah ditetapkan berdasarkan ada atau tidaknya Antigen A atau B pada sel darah merah.
b.      Serum individu mengandung antibodi reguler anti-A atau anti-B.
c.       Dalam serum individu tidak terdapat antibodi terhadap antigen yang terdapat pada sel darah merahnya.
Metode pemeriksaan: aglutinasi dengan menggunakan tube test.
Cara kerja terlampir
v  Pemeriksaan D weak
Prinsip: untuk mengetahui apakah sel darah merah memiliki andi D
Metode: aglutinasi menggunakan tube test
Hasil negatif pada pemeriksaan D weak faktor menunjukkan bahwa pasien tersebut tidak memiliki antigen D, maka dinyatakan sebagai Rh negatif.

C. Pemeriksaan Direct Coomb’s Test
Prinsip : pemeriksaan DCT yang untuk menetapkan ada atau tidaknya antibodi yang coated pada sel darah merah secara invivo.
Metode: agglutinasi lansung.
Cara kerja terlampir
            Hasil pemeriksaan darah pada pasien yang positif dilanjutkan dengan pemeriksaan skrining eluate. Apabila hasil pemeriksaan negatif, dilanjutkan dengan pemeriksaan skrining serum pasien.

D. Skrining Identifikasi Serum
Prinsip : untuk mengetahui ada atau tidaknya kemungkinan irregular atau regular allo antibodi dalam serum pasien maupun donor secara invitro.
Metoda : agglutinasi tidak langsung (indirek Coomb’s test)
Cara kerja terlampir
Serum/plasma yang akan diperiksa direaksikan dengan sel darah merah golongan O yang telah diketahui antigen make upnya (susunan antigen golongan darah). Hasil pemeriksaan skrining antibodi yang positif harus dilanjutkan ke identifikasi antibodi.
Beberapa keuntungan yang didapat bila melakukan pemeriksaan Skrining antibodi:
1. Bagi resipien
a.          Kemungkinan ditemukannya antibodi irreguler lebih besar dibandingkan dengan pemeriksaan cocok serasi. Pemeriksaan skrining antibodi dapat dilakukan bersama-sama dengan pemeriksaan reaksi silang.
b.          Sebagai persiapan operasi pemeriksaan ini dapat dilakukan terlebih dahulu, sehingga memudahkan mencari darah donor yang kompatibel pada pemeriksaan cocok serasi.
c.          Pemeriksaan reaksi silang minor dan reaksi antar donor ditiadakan, karena semua donor sudah diketahui tidak mengandung antibodi irreguler.
2. Bagi Donor
     Antibodi yang ditemukan dapat dicantumkan didalam kartu donor sebagai peringatan bagi UTD, baik pada saat ia mendonorkan darahnya maupun  pada saat ia sendiri membutuhkan darah.
3. Bagi UTD
a.       Kesalahan manusia berupa kesalahan penulis identitas, tetesan maupun tertukarnya tabung-tabung reaksi akibat banyaknya tabung yang digunakan.
b.      Waktu yang dibutuhkan untuk pemeriksaan Uji Cocok Serasi menjadi singkat sangat menguntungkan saat permintaan darah Cito, karena minor test dan reaksi antar donor ditiadakan.
c.       Semua darah donor yang telah diuji saring antibodi siap pakai dan telah diketahui bebas dari antibodi irreguler baik tipe dingin maupun tipe hangat.
d.      Beberapa darah donor yang mengandung antibodi masih dapat digunakan sebagai PRC.

2.10. Identifikasi Antibodi
Prinsip : untuk mengetahui ada atau tidaknya irreguler antibodi yang spesifik dalam serum pasien.
Metoda            : agglutinasi (tube test) Direct & Indirek
Cara kerja terlampir
Serum/plasma yang akan diperiksa direaksikan dengan sel darah merah golongan O yang telah diketahui antigen make upnya (susunan antigen golongan darah).































BAB III
ANALISA HASIL PEMERIKSAAN

Hasil Pemeriksaan
            Identitas sampel yang diperiksa:
a.       Nama               : Ny. Erika
b.      Jenis kelamin   : Perempuan
c.       Usia                 : 30 th
d.      Rumah Sakit   : St. Corolus
e.       Bagian             : Kebidanan
f.       Ruangan          : Maria 2
g.      No. Register    : 910112
h.      Dr. Yang meminta : dr. Robert
i.        Diagnosa         : G2P1A1
j.        Kadar Hb \      : 7 gr/dl Persiapan Alat
k.      Riwayat transfusi   : -

A. Pemeriksaan Validasi Reagensia
a. Anti –A
Identitas Antisera
Tabung 1
Tabung II
Tabung III
TGL
Pemeriksaan
Diperiksa Oleh
Dicek Oleh
130311 maret 2011
4+
neg
neg
20/07/2011
Rosdiana


 b. Anti –B
Identitas Antisera
Tabung 1
Tabung II
Tabung III
TGL
Pemeriksaan
Diperiksa Oleh
Dicek Oleh
130311 maret 2011
neg
4+
neg
20/07/2011
Rosdiana


c. Anti –D
Identitas Antisera
Tabung 1
Tabung II
TGL
Pemeriksaan
Diperiksa Oleh
Dicek Oleh
DM 020211 jan 2011
4+
neg
20/07/2011
Rosdiana

d. Tes sel A Standar
Identitas Antisera
Tabung 1
Tabung II
TGL
Pemeriksaan
Diperiksa Oleh
Dicek Oleh
180711 10 agust 2011
4+
neg

20/07/2011
Rosdiana


e. Tes sel B Standar
Identitas Antisera
Tabung 1
Tabung II
TGL
Pemeriksaan
Diperiksa Oleh
Dicek Oleh
180711 10 agust 2011
neg
4+
20/07/2011
Rosdiana


f. Tes Sel O Standar
Identitas Antisera
Tabung 1
Tabung II
TGL
Pemeriksaan
Diperiksa Oleh
Dicek Oleh
180711 10 agust 2011
neg
neg
20/07/2011
Rosdiana


g. Coomb’s Serum (AHG)
Identitas Antisera
Tabung 1
Tabung II
Tabung III
Tabung IV
TGL
Pemeriksaan
Diperiksa Oleh
Dicek Oleh
SGA 040411 april 2011
4+
neg
neg
neg
20/07/2011
Rosdiana


h. Bovine Albumine 22%
Identitas Antisera
Tabung 1
Tabung II
Tabung III
TGL
Pemeriksaan
Diperiksa Oleh
Dicek Oleh
010511 mei 2011
neg
neg
neg
20/07/2011
Rosdiana


i. Coomb’ Control Cell
Identitas Antisera
Tabung 1
Tabung II
TGL
Pemeriksaan
Diperiksa Oleh
Dicek Oleh
180711 10 agust 2011
4+
neg
20/07/2011
Rosdiana

           
Dari pemeriksaan validasi reagensia yang dilakukan, semua reagen dinyatakan valid

B. Hasil Pemeriksaan Golongan Darah
            Pada pemeriksaan golongan darah
Identitas pasien
Sel Grouping
Serum Grouping
Auto Kontrol
Rhesus
Kesimpulan
pemeriksa
Anti-A
Anti-B
Tes Sel A
Tes Sel B
Tes Sel O
Anti -D
B.A 6%
Ny. Erika
Rs. St.Corolus
Neg
Neg
4+
4+
Neg
Neg
Neg
Neg
O Rh Neg
Rosdiana

Pemeriksaan golongan darah Ny. Erika dari RS. St. Corolus, ditemukan antibodi A dan B, namun tidak di temukan adanya antigen pada sel darah merah, disimpulkan golongan darah O Rhesus negatif.

C. Hsil pemeriksaan Du faktor
 
            Pada pemeriksaan D weak pasien atas nama Ny. Erika dari RS. St. Corolus,tidak ditemukan adanya antigen D pada sel darah merah pasein, maka penulis menyimpulkan bahwa pasien tersebut memiliki golongan darh O Rrhesus negatif.

D. Hasil pemeriksaan DCT


Reagensia
Merek
Hasil
CCC
Ny. Erika
Polispesifik
AHG UTDP
neg
2+
RS.St. Corolus
Diaclon Coomb’s
Neg
2+
Kebidanan
Monospesifik
IgG
Neg
2+

C3
Neg

Kontrol

Saline
Neg

Diperiksa oleh

Rosdiana
Rosdiana

Dicek oleh





Pada pemeriksaan direct Coomb’s test pasien Ny. Erika dari RS. St. Coeolus bagian kebidana, tidak ditemukan adanya antibodi yang coated pada sel darah merah pasien secara invivo.

E. Hasil Skrining dan Identifikasi antibodi Serum
Panel sel
Serum
pemeriksa
Dicek oleh
Saline
B. alb
ICT
CCC
S1
Neg
Neg
3+

Rosdiana

S2
Neg
Neg
3+

Rosdiana

1
Neg
Neg
3+

Rosdiana

2
Neg
Neg
2+

Rosdiana

3
Neg
Neg
3+

Rosdiana

4
Neg
Neg
2+

Rosdiana

5
Neg
Neg
3+

Rosdiana

6
Neg
Neg
3+

Rosdiana

7
Neg
Neg
Neg
2+
Rosdiana

8
Neg
Neg
Neg
2+
Rosdiana

9
Neg
Neg
Neg
2+
Rosdiana

10
Neg
Neg
Neg
2+
Rosdiana

Auto
Neg
Neg
Neg
2+
Rosdiana


            Pada pemeriksaan skrining serum pasien Ny. Erika dari RS. St corolus bagian kebidanan, ditemukan adanya antibodi yang irreguler, dan kemungkinan antibodi tersebut adalah antibodi –D, -K, -Fya, -Jka, -Jkb, -M, -N, -s, -P1, -Lea. untuk memastikan jenis antibodi tersebut, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan identifikasi antibodi.
            Pada pemeriksaan identifikasi serum Ny. Erika dari RS. St. Corolus bagian kebidanan, ditemukan adanya antibodi irreguler dalam serum pasien, yaitu antibodi D. Kemungkinan atibodi tersebut berasal dari stimulus darah janin sebelumnya yang pernah di kandung, yang masuk kedalam peredaran darah ibunya melalui placenta sehingga ibu tersebut membentuk imun antibodi D dalam tubuhnya.




BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
Pemeriksaan sampel darah Ny.Erika dari RS. St. Corolus bagian kebidanan, ditemukan:
a.       Adanya antibodi A dan antibodi B dalam serum pasien, namun tidak ditemukan adanya antigen pada sel darah merah pasien. Maka disimpulkan golongan darahnya adalah O Rhesus negatif
b.      Pada pemeriksaan d weak tidak ditemukan adanya antigen D pada sel darah merahnya, maka disimpulkan sebagai Rhesus negatif
c.       Pemerksaan DCT tidak ditemukan adanya antibodi yang coated pada sel darah merah secara invivo
d.      Pemerisaan skrining serum diteukan adanya antibodi irreguler, kemungkinan antibodi tersebut adalah –D, -K, -Fya, -Jka, -Jkb, -M, -N, -s, -P1, -Lea
e.       Pemeriksaan identifikasi antibodi ditemukan antibodi –D, yang kemungkinan berasal dari stimulus kehamilan sebelumnya

4.2. Saran
Merujuk pada hasil pemeriksaan golongan darah dan hasil pemeriksaan Coomb’s Test Ny. Erika dari RS. St. Corolus bagian kebidanan, ketika memerlukan transfusi darah sebaiknya diberikan darah dengan golongan yang sama dan Rhesus negatif.



DAFTAR PUSTAKA

·         Sindu, Elyani. Dr. Med (2011). Serologi Golongan Darah. Jakarta
·         Rustam, Masri. Dr (1977).Almanak Transfusi Darah.Jakarta: Palang Merah Indonesia
·          http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22776/5/Chapter%20I.pdf



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar